Tampilkan postingan dengan label Ajaran Wahidiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ajaran Wahidiyah. Tampilkan semua postingan
Selasa, 14 Mei 2013
Minggu, 13 Januari 2013
LILGHOUTS-BILGHOUTS
LILGHOUTS-BILGHOUTS
Pengertian dan penerapannya seperti LIRROSUL-BIRROSUL.
Jadi LILGOUTS artinya adalah niat mengikuti bimbingan Ghouts
Hadzaz-zamanrodiyallohu anhu (disamping niat LILLAH dan LIRROSUL)
Dan BILGHOTS penerapannya
merasa dalam hati bahwa dalam segala tingkahlaku kita yang diridloi ALLAH kita
memperoleh jasa dari Ghoutsu Haadzaz zamaaz rodialloohu ‘anhu (disamping sadar
BILLAH dan BIRROSUL).
HAL GHOUTSU HAADZAZ ZAMAAN
Adalah sudah menjadi sunnatulloh bahwa dari sekian banyak
hamba-hamba-NYA ini ada orang-orang yang dikasihi oleh Allah yang disebut
Waliyullaoh, kata jamaknya, Auliyak Allah. Dalam suatu priode masa tertentu
Allah memilih salah satu diantara Auliyak Allah tersebut menjadi pemimpinnya
yang disebut Sulthoonul Auliyak. Ada yang menyebut “Quthbul Aqthob” atau
“Ghoutsuz-zaman”.
Jika beliyau meninggal
didunia ada penggantinya, meninggal ada penggantinya, sampai masa dekat
menjelang hari Qiyamat.
Jadi Ghoutsu Haadzaz-zamaan
adalah Sulthonul Auliya atau pemimpinnya para Auliya pada zaman sekarang ini.
Siapa-siapa orangnya Ghoutsu Haadzaz-zamaan dan umumnya para Sulthonul Auliya
tersebut, tidak ada keterangan-keterangan identitas untuk dapat mengenalnya
secara lahiriyah. Didalam kitab jaami ul-ushul fil Aulia antara lain disebutkan
identitas batin sebagai berikut:
1. Hatinya senantiasa thowaf kepada Allah sepanjang masa.
2. Beliyau dikaruniyai memiliki sirri-sirri/keistimewaan yang
dapat menembus merata keseluruh alam seperti meratanya ruh kedalam jasad atau
seperti merembesnya air didalam poho-pohonan.
3. Beliyau menanggung berbagai permasalahan didunia.
Selanjutnya disebutkan:
“Jika seandainya dalam suatu masa sudah tidak ada
WAAHIDUZ-ZAMAAN yang senantiasa tawajjuh munajat kepada Allah bagi perkaranya
segala makhluk maka suatu perintah/adzab
Allah akan datang mengejutkan dengan tiba-tiba kemudian membinasakan mereka.”
(WAAHIDUZ-ZAMAAN tersebut yang dimaksud, tidak lain adalah
Ghoutsuz-zamaan atau sulthoonulAuliya.)
“Dikalangan umat-KU senantiasa tidak sepi dari adanya
suatu “thooifah” (kelompok) yang memperjuangkan kebenaran sampai datangnya hari
Qiyammah.”
(Hadits shoheh riwayat Al
Haakim dari Sayyidina Umar Rodiallohu ‘anhu)
“Dikatakan
bahwa yang dimaksud dengan “thooifah” adalah ahlulloh dan pemimpinnya yakni “Al
Aqthob” seperti sudah difahami.”
(Da’watut maamah, hal 23)
“Al Aqthoob”
menurut istilah ahli tasawwuf yang berlaku dikalangan mereka, didalam suatu
masa tidak ada melainkan hanya satu dari kalangan mereka yaitu Al Ghouts.”
(Kitab Yawaqit hal 61 juz II)
“Maka pada suatu zaman
tidak sepi dari adanya seseorang Rasul dan itulah yang disebut “QUTHBU” yang
merupakan “mu’alla nadlillahi fil alam” yang dimaksud Rasul disini bukanlah
“Rasulluttasyri” yang mengajarkan syariat baru, melainkan Rasul untuk
menyempurnakan perkara agama mereka dan Rasul yang menuntun ummat masyarakat
wushul sadar kepada Allah wa Rasuulihi sallalloohu ‘alaihi wassallam.”
(Kitab Yawaqit juz II, hal 8)
Selanjutnya disebutkan:
“Dan keadaan
lahiriyah mereka para Quthbu adalah dengan isytiqhol (menyebutkan diri seperti
umumnya ulama-ulama lain) dalam bidang ilmu kasbi yakni ilmu syari’at untuk
merahasiakan maqomnya, oleh karena setengah daripada syakmul Quthbi itu memang
rahasia adanya.”
(Kitab
Yawaqit juz II, hal 8)
“Apakah tempat kedudukan Quthbu itu selalu mesti
dimekah seperti dimashurkan ? Maka jawabnya:
“Adapun tentangf jasad dan pribadi
Quthbu itu adalah menurut kehendak
Allah, tidak ditentukan mesti berada di suatu tempat tertentu. Yang jelas, setengah
daripada saykmulqutbi adalah samar-samat atau rahasia. Maka sekali tempo ada
Quthbu sebagai tukang besi, selain tempo ada sebagai seorang pedagang, ada yang
menjual polowijo dan lain-lain. Dan Allahlah yang maha mengetahui.”
(Kitab
Yawqit juz II, hal 81)
DASAR/DALIL
PENERAPAN LILGHOUTS-BILGHOUTS
“Dan
ikutlah jalannya orang yang kembali kepada-KU.”
(Q.
Surat (31) Luqman ayat 15).
“Hai
orang-orang yang beriman, bertqwa kepada Allah dan hendaklah kamu sekalian,
beserta orang-orang yang benar.”
(Q.
Surat (9) At Taubah ayat 119).
“Dan
KAMI tidak mengutus sebelum Engkau (Muhammad) melainkan orang laki-laki yang
KAMI wahyukan kepada mereka; maka bertanyalah kamu sekalian kepada
“ahludzdzikri” jika kamu sekalian tidakl mengetahui.”
(Q.
Surat (16) An Nahl ayat 43).
“Duduk
bergaullah dengan Ulama’ Besar (Mujtahid/Mujaddid) Ghoutsuz-Zamaam) dan
betanyalah kepada Ulama’ dan bergaullah kepada para Hukamak/para ahli hikmah
(mufti).”
(Hadits
riwayat Thobroni dari abu juhaifah).
Selasa, 08 Januari 2013
FAEDAH MEMBACA SHOLAWAT WAHIDIYAH
Faedah Sholawat Wahidiyah untuk menjernikan hati dan Ma‘rifat Billah (sadar kepada Alloh SWT) wa Rosuluhi SAW.
Bersabda Rosululloh : “Barang siapa membaca shalawat
kepadaku satu kali, maka Alloh membalas shalawat kepadanya sepuluh kali;
dan barang siapa membaca shalawat kepadaku seratus kali, maka Alloh
menulis pada antara kedua matannya : “bebas dari munafiq dan bebas dari
neraka”, dan Alloh menempatkannya besok pada Yaumul Qiyamah bersama-sama
dengan para suhadak”. (Riwayat Thabrani dari Anas bin Malik)
TAQDIIMUL AHAM FAL AHAM TSUMMAL ANFA’ FAL ANFA’
- TAQDIIMUL AHAM FAL AHAM TSUMMAL ANFA’ FAL ANFA’
“Mendahulukan yang
paling penting, kemudian yang paling besar manfaatnya.” Jika ada dua macam
kewajiban atau lebih, dalam waktu yang bersamaan dimana kita tidak mungkin
dapat mengejakannya bersama-sama, maka harus kita pilih yang paling aham
(paling penting) kita kerjakan lebih dahulu. Jika sama-sama pentingnya, kita
pilih yang lebih besar manfaatnya. Untuk dapat menetapkan pilihan aham dan
anfa’ secara tepat perlu kita perhatikan sebagai pedoman yaitu bahwa segala
yang berhubungan dengan Allah wa Rosuulihii SAW terutama yang wajib pada
umumnya harus kita pandang aham (paling penting) dan hal-hal yang manfaatnya
dirasakan juga oleh orang lain lebih-lebih manfaatnya. Dikatakan yang baru
(asidl) atau karena situasi dan kondisi maka dalam prakteknya bisa menyimpang
dari pedoman tersebut.
DASAR/DALIL TAQDIIMUL
AHAM FAL AHAM TSUMMAL ANFA’ FAL ANFA’
“Mencagah kerusakan
didahulukan daripada menarik kemaslahatan.”
(Qoo’idah Usul Fiqih)
Ada lagi semacam
“Doktrin akhlaq”:“Memelihara adab
didahulukan daripada menjalankan berbagai macam perintah.”
“Maka apabila hati
kamu sekalian sudah tenang (aman) maka dirikanlah sholat...”
(An
Nisa’ 103)
YUKTI KULLA DZII HAQQIN HAQQOH
- YUKTI KULLA DZII HAQQIN HAQQOH :
“Memenuhi
segala macam kewajiban yang menjadi kewajiban dan bertanggung jawab tanpa
menuntut hak.” Mengutamakan kewajiban daripada menuntut
hak. Contoh: suami harus memenuhi kewajibannya terhadap sang istri, tanpa
menuntut hak dari sang istri. Dan istri harus memenuhi kewajibannya terhadap
suami, tanpa menuntut haknya dari sang suami. Anak harus memenuhi kewajibannya
terhadap orang tua, tanpa menuntut haknya dari orang tua. Dan orang tua supaya
memenuhi kewajibannya terhadap anak. Tanpa menuntut haknya dari sang anak. Dan
sebagainya. Sudah barang tentu jika kewajiban dipenuhi dengan baik, maka apa
yang terjadi haknya akan datang sendirinya tanpa diminta.
- DASAR/DALIL YUKTI KULLA DZII HAQQIN HAQQOH
1.
“.........dan
penuhilah janji/kewajiban karena sesungguhnya janji/kewajiban itu pasti
dimintai pertanggungan jawab (termasuk besok diakhirat).”
(Q.
Syrat (17) Al Isrok ayat 34).
2.
“Sesungguhnya
Allah menyuruh kamu sekalian supaya menyampaikan amanat kepada yang berhak
menerimanya, dan bila kamu menetabkan hukum diantara manusia supaya kamu
menjalankannya dengan adil...”
(Q. Surat (4) An Nisa’ ayat 58)
3.
“Yang
disebut adil ialah memberikan segala hak (memenuhu kewajiban) kepada yang
mempunyai hak.”
(Kitab
Ihya Ulumuddin juz III, hal 315)
4. “Sesungguhnya Allah itu memberikan segala hak
kepada yang mempunyai hak.”
(Hadits
Riwayat Ibnu Majah dari Anas Bin Malik dengan sanad yang shoheh)
Jumat, 28 Desember 2012
BIRROSUL
BIRROSUL:
"Penerapan seperti BILLAH akan tetapi tidak mutlak dan menyeluruh seperti BILLAH, melainkan terbatas dalam soal-soal yang tidak dilarang Allah wa Rasuulihii SAW. Jadi adi dalam segala hal apapun segala gerak-gerik kita baik lahir maupun batin, asal bukan hal yang dilarang oleh Allah wa Rasuulihii SAW kita supaya merasa bahwa semuanya itu mendapat jasa dari Rasuulihii SAW.
"Dan tidaklah AKU mengutus Engkau (Muhammad) melainkan rahmat bagi seluruh alam". (Q. Surat (21) Al Anbiya' - 107).
"...........dan sesungguhnya Engkau (Muhammad) benar-benar dapat memberi petunjuk ke arah jalan yang lurus". (Q. Surat (42)
"Penerapan seperti BILLAH akan tetapi tidak mutlak dan menyeluruh seperti BILLAH, melainkan terbatas dalam soal-soal yang tidak dilarang Allah wa Rasuulihii SAW. Jadi adi dalam segala hal apapun segala gerak-gerik kita baik lahir maupun batin, asal bukan hal yang dilarang oleh Allah wa Rasuulihii SAW kita supaya merasa bahwa semuanya itu mendapat jasa dari Rasuulihii SAW.
"Dan tidaklah AKU mengutus Engkau (Muhammad) melainkan rahmat bagi seluruh alam". (Q. Surat (21) Al Anbiya' - 107).
"...........dan sesungguhnya Engkau (Muhammad) benar-benar dapat memberi petunjuk ke arah jalan yang lurus". (Q. Surat (42)
LIRROSUL
LIRROSUL:
Disamping niat ibadah LILLAH supaya juga disertai LIRROSUL, yaitu niat mengikuti tuntunan Rasullallah SAW. Asal bukan perbuatan yang tidak diridloi Allah dan bukan perbuatan yang merugikan.
"Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan janganlah kamu sekalian merusak amal-amal kamu sekalian". (Q.Surat (47) Muhammad ayat 33).
"Barang siapa mengikuti kepada Rasul (LIRROSUL) maka sesungguhnya ia telah taat kepada Allah." (Q .Surat (4) An Nisa'-80)
Disamping niat ibadah LILLAH supaya juga disertai LIRROSUL, yaitu niat mengikuti tuntunan Rasullallah SAW. Asal bukan perbuatan yang tidak diridloi Allah dan bukan perbuatan yang merugikan.
"Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan janganlah kamu sekalian merusak amal-amal kamu sekalian". (Q.Surat (47) Muhammad ayat 33).
"Barang siapa mengikuti kepada Rasul (LIRROSUL) maka sesungguhnya ia telah taat kepada Allah." (Q .Surat (4) An Nisa'-80)
BILLAH
BILLAH yang artinya adalah Dalam segala kehidupan, gerk-gerik kita atau perbuatan atau tindakan apa saja lahir dan batin dimanapun dan kapanpun, supaya didalam hati senantiasa merasa bahwa yang menciptakan dan menitahkan serta menggerakkan itu semua adalah Allah SWT.
"Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu sekalian dan apa yang kamu sekalian perbuat". (Q. Surat (37) As-Shoffah ayat 96).
"Dari Abi Dzarrin: "Aku bertanya kepada Rasululloh SAW. Yaa Rasululloh, amal-amal apakah yang lebih utama? Rasululloh SAW: "ALIIMAANU BILLAH"=Sadar Billah (Hadits Muttafaq 'laihi)
"Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu sekalian dan apa yang kamu sekalian perbuat". (Q. Surat (37) As-Shoffah ayat 96).
"Dari Abi Dzarrin: "Aku bertanya kepada Rasululloh SAW. Yaa Rasululloh, amal-amal apakah yang lebih utama? Rasululloh SAW: "ALIIMAANU BILLAH"=Sadar Billah (Hadits Muttafaq 'laihi)
LILLAH
LILLAH yang artinya "Segala perbuatan apa saja lahir maupun batin, baik yang berhubungan langsung kepada Allah wa Rosuulihii shollalloohu alaihi wassalam, maupun yang berhubungan di dalam masyarakat, bahkan hubungan dengan sesama mahluk, baik yang wajib, sunnah ataupun mubah asal bukan perbuatan yang tidak diridloi Allah, bukan perbuatan yang merugikan, di dalam melaksanakannya supaya disertai niat beribadah mengabdikan diri kepada Allah SWT dengan iklas tanpa pamrih".
Dasar/dalil:
Dasar/dalil:
- "Dan tidaklah AKU menciptakan jin dan manusia melainkan agar supaya mereka beribadah (mengabdikan diri) kepada-Ku". (Q. Surat (51) Adz-Dzariyat ayat 56).
- "Dan tidaklah disuruh, melainkan supaya beribadah (mengabdikan diri) kepada Allah dengan iklas/memurnikan kepada-Nya". (Q. Surat (98) Al-Bayyinah ayat 5).
Perjuangan Wahidiyah
Yang dimaksud perjuangan Wahidiyah adalah upaya lahiriyah dan batiniyah dengan Sholawat Wahidiyah dan ajaran Wahidiyah agar supaya seluruh umat manusia masyarakat jami'al alamiin (termasuk dan terutama diri pribadi dan keluarga) kembali mengabdikan diri dan sadar kepada Allah SWT.
AJARAN WAHIDIYAH
Yang dimaksud dengan AJARAN WAHIDIYAH ADALAH "Bimbingan praktis lahiriyah dan batiniyah di dalam mengamalkan dan menerapapkan Tuntunan Rosulallah SAW mencakup bidang Syari'at, haqiqot. meliputi penerapan iman pelaksanaan Islam. Perwujudan ihsan dan pembentukan akhlaqul kariimah".
Sumber dasar hukum ajaran Wahidiyah adalah Al Qur'an dan Sunnah Rasul SAW.
Sumber dasar hukum ajaran Wahidiyah adalah Al Qur'an dan Sunnah Rasul SAW.

Selasa, Mei 14, 2013
Unknown



