Ingin Punya Pengikut banyak

Tampilkan postingan dengan label Ajaran Wahidiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ajaran Wahidiyah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Mei 2013

YAA SAYYIDII YAA ROSUULALLOH (DUHAI PEMIMPIN KAMI DUHAI UTUSAN ALLAH)







    

YAA SAYYIDII YAA ROSUULALLOH (duhai pemimpin kami duhai utusan Allah)

      Di dalam karya Syaikh Abdul Qadir Jaelani RA yaitu Kitab Fathul Rabbani menerangkan sebaga berikut :Jadikanlah segala urusanmu apa saja, baik urusan dunia (bekerja, belajar, makan, minum, dll) maupun urusan akhirat (sholat,zakat, puasa, hajji, bemujahadah, dll), harus senantiasa merasa HADIR dihadapan Rosulullah SAW. Mengapa demikian ? Karena beliau Rosululloh SAW berada di tengah-tengah antara hamba dengan sang Pencipta Alloh SWT. Satu-satunya yang menghantarkan seorang hamba kepada Tuhan Alloh SWT adalah Rosulullah SAW. Sehingga apa yang kita anggap baik itu adalah diperintahkan Rosul dan apa yang kita jauhi adalah karena larangan Rosul.

Kesimpulannya: Semua urusan dunia dan urusan akhirat selain kita harus

LILLAH

BILLAH

      Kita juga harus LIRROSUL  BIRROSUL senantiasa ma'mum dan berhubungan (kontak batin), berta'alluq dengan Rosulullah SAW. Ta'alluq Bijanaabihi SAW yg paling gampang antara lain adalah dengan nidak Rosul YAA SAYYIDII YAA ROSUULALLOH ! Cara Ta"alluq Bijanaabihi SAW ada 2 jalan, diterangkan dlm kitab Sa'aadaatud Daroini, pertama TA'ALLUQ SURIYYUN, kedua TA'ALLUQ MAKNAWIYYUN, silakan baca kitab tsb. !

Minggu, 13 Januari 2013

LILGHOUTS-BILGHOUTS

LILGHOUTS-BILGHOUTS


            Pengertian dan penerapannya seperti LIRROSUL-BIRROSUL. Jadi LILGOUTS artinya adalah niat mengikuti bimbingan Ghouts Hadzaz-zamanrodiyallohu anhu (disamping niat LILLAH dan LIRROSUL)
Dan BILGHOTS penerapannya merasa dalam hati bahwa dalam segala tingkahlaku kita yang diridloi ALLAH kita memperoleh jasa dari Ghoutsu Haadzaz zamaaz rodialloohu ‘anhu (disamping sadar BILLAH dan BIRROSUL).

HAL GHOUTSU HAADZAZ ZAMAAN
          Adalah sudah menjadi sunnatulloh bahwa dari sekian banyak hamba-hamba-NYA ini ada orang-orang yang dikasihi oleh Allah yang disebut Waliyullaoh, kata jamaknya, Auliyak Allah. Dalam suatu priode masa tertentu Allah memilih salah satu diantara Auliyak Allah tersebut menjadi pemimpinnya yang disebut Sulthoonul Auliyak. Ada yang menyebut “Quthbul Aqthob” atau “Ghoutsuz-zaman”.
Jika beliyau meninggal didunia ada penggantinya, meninggal ada penggantinya, sampai masa dekat menjelang hari Qiyamat.
        Jadi Ghoutsu Haadzaz-zamaan adalah Sulthonul Auliya atau pemimpinnya para Auliya pada zaman sekarang ini. Siapa-siapa orangnya Ghoutsu Haadzaz-zamaan dan umumnya para Sulthonul Auliya tersebut, tidak ada keterangan-keterangan identitas untuk dapat mengenalnya secara lahiriyah. Didalam kitab jaami ul-ushul fil Aulia antara lain disebutkan identitas batin sebagai berikut:
1. Hatinya senantiasa thowaf kepada Allah sepanjang masa.
2. Beliyau dikaruniyai memiliki sirri-sirri/keistimewaan yang dapat menembus merata keseluruh alam seperti meratanya ruh kedalam jasad atau seperti merembesnya air didalam poho-pohonan.
3. Beliyau menanggung berbagai permasalahan didunia.
Selanjutnya disebutkan:
            Jika seandainya dalam suatu masa sudah tidak ada WAAHIDUZ-ZAMAAN yang senantiasa tawajjuh munajat kepada Allah bagi perkaranya segala makhluk  maka suatu perintah/adzab Allah akan datang mengejutkan dengan tiba-tiba kemudian membinasakan mereka.”
(WAAHIDUZ-ZAMAAN  tersebut yang dimaksud, tidak lain adalah Ghoutsuz-zamaan atau sulthoonulAuliya.)

            “Dikalangan umat-KU senantiasa tidak sepi dari adanya suatu “thooifah” (kelompok) yang memperjuangkan kebenaran sampai datangnya hari Qiyammah.”
(Hadits shoheh riwayat Al Haakim dari Sayyidina Umar Rodiallohu ‘anhu)

            “Dikatakan bahwa yang dimaksud dengan “thooifah” adalah ahlulloh dan pemimpinnya yakni “Al Aqthob” seperti sudah difahami.”
(Da’watut maamah, hal 23)

            “Al Aqthoob” menurut istilah ahli tasawwuf yang berlaku dikalangan mereka, didalam suatu masa tidak ada melainkan hanya satu dari kalangan mereka yaitu Al Ghouts.”
(Kitab Yawaqit hal 61 juz II)

            “Maka pada suatu zaman tidak sepi dari adanya seseorang Rasul dan itulah yang disebut “QUTHBU” yang merupakan “mu’alla nadlillahi fil alam” yang dimaksud Rasul disini bukanlah “Rasulluttasyri” yang mengajarkan syariat baru, melainkan Rasul untuk menyempurnakan perkara agama mereka dan Rasul yang menuntun ummat masyarakat wushul sadar kepada Allah wa Rasuulihi sallalloohu ‘alaihi wassallam.”
(Kitab Yawaqit juz II, hal 8)

Selanjutnya disebutkan:
            “Dan keadaan lahiriyah mereka para Quthbu adalah dengan isytiqhol (menyebutkan diri seperti umumnya ulama-ulama lain) dalam bidang ilmu kasbi yakni ilmu syari’at untuk merahasiakan maqomnya, oleh karena setengah daripada syakmul Quthbi itu memang rahasia adanya.”    
(Kitab Yawaqit juz II, hal 8)     

“Apakah tempat kedudukan Quthbu itu selalu mesti dimekah seperti dimashurkan ? Maka jawabnya:
“Adapun tentangf jasad dan pribadi Quthbu itu adalah  menurut kehendak Allah, tidak ditentukan mesti berada di suatu tempat tertentu. Yang jelas, setengah daripada saykmulqutbi adalah samar-samat atau rahasia. Maka sekali tempo ada Quthbu sebagai tukang besi, selain tempo ada sebagai seorang pedagang, ada yang menjual polowijo dan lain-lain. Dan Allahlah yang maha mengetahui.”
(Kitab Yawqit juz II, hal 81)

DASAR/DALIL PENERAPAN LILGHOUTS-BILGHOUTS

            “Dan ikutlah jalannya orang yang kembali kepada-KU.”
(Q. Surat (31) Luqman ayat 15).

            “Hai orang-orang yang beriman, bertqwa kepada Allah dan hendaklah kamu sekalian, beserta orang-orang yang benar.”
(Q. Surat (9) At Taubah ayat 119).

            “Dan KAMI tidak mengutus sebelum Engkau (Muhammad) melainkan orang laki-laki yang KAMI wahyukan kepada mereka; maka bertanyalah kamu sekalian kepada “ahludzdzikri” jika kamu sekalian tidakl mengetahui.”
(Q. Surat (16) An Nahl ayat 43).

            “Duduk bergaullah dengan Ulama’ Besar (Mujtahid/Mujaddid) Ghoutsuz-Zamaam) dan betanyalah kepada Ulama’ dan bergaullah kepada para Hukamak/para ahli hikmah (mufti).”
(Hadits riwayat Thobroni dari abu juhaifah).

Selasa, 08 Januari 2013

FAEDAH MEMBACA SHOLAWAT WAHIDIYAH

       Faedah Sholawat Wahidiyah untuk menjernikan hati dan Ma‘rifat Billah (sadar kepada Alloh SWT) wa Rosuluhi SAW.
Bersabda Rosululloh : “Barang siapa membaca shalawat kepadaku satu kali, maka Alloh membalas shalawat kepadanya sepuluh kali; dan barang siapa membaca shalawat kepadaku seratus kali, maka Alloh menulis pada antara kedua matannya : “bebas dari munafiq dan bebas dari neraka”, dan Alloh menempatkannya besok pada Yaumul Qiyamah bersama-sama dengan para suhadak”. (Riwayat Thabrani dari Anas bin Malik)

TAQDIIMUL AHAM FAL AHAM TSUMMAL ANFA’ FAL ANFA’

  • TAQDIIMUL AHAM FAL AHAM TSUMMAL ANFA’ FAL ANFA’

       “Mendahulukan yang paling penting, kemudian yang paling besar manfaatnya.” Jika ada dua macam kewajiban atau lebih, dalam waktu yang bersamaan dimana kita tidak mungkin dapat mengejakannya bersama-sama, maka harus kita pilih yang paling aham (paling penting) kita kerjakan lebih dahulu. Jika sama-sama pentingnya, kita pilih yang lebih besar manfaatnya. Untuk dapat menetapkan pilihan aham dan anfa’ secara tepat perlu kita perhatikan sebagai pedoman yaitu bahwa segala yang berhubungan dengan Allah wa Rosuulihii SAW terutama yang wajib pada umumnya harus kita pandang aham (paling penting) dan hal-hal yang manfaatnya dirasakan juga oleh orang lain lebih-lebih manfaatnya. Dikatakan yang baru (asidl) atau karena situasi dan kondisi maka dalam prakteknya bisa menyimpang dari pedoman tersebut.


DASAR/DALIL TAQDIIMUL AHAM FAL AHAM TSUMMAL ANFA’ FAL ANFA’

            Mencagah kerusakan didahulukan daripada menarik kemaslahatan.”
(Qoo’idah Usul Fiqih)

Ada lagi semacam “Doktrin akhlaq”:“Memelihara adab didahulukan daripada menjalankan berbagai macam perintah.”

            “Maka apabila hati kamu sekalian sudah tenang (aman) maka dirikanlah sholat...”
(An Nisa’ 103)

YUKTI KULLA DZII HAQQIN HAQQOH


  • YUKTI KULLA DZII HAQQIN HAQQOH :


          “Memenuhi segala macam kewajiban yang menjadi kewajiban dan bertanggung jawab tanpa menuntut hak.” Mengutamakan kewajiban daripada menuntut hak. Contoh: suami harus memenuhi kewajibannya terhadap sang istri, tanpa menuntut hak dari sang istri. Dan istri harus memenuhi kewajibannya terhadap suami, tanpa menuntut haknya dari sang suami. Anak harus memenuhi kewajibannya terhadap orang tua, tanpa menuntut haknya dari orang tua. Dan orang tua supaya memenuhi kewajibannya terhadap anak. Tanpa menuntut haknya dari sang anak. Dan sebagainya. Sudah barang tentu jika kewajiban dipenuhi dengan baik, maka apa yang terjadi haknya akan datang sendirinya tanpa diminta.
  •  DASAR/DALIL YUKTI KULLA DZII HAQQIN HAQQOH
1.      “.........dan penuhilah janji/kewajiban karena sesungguhnya janji/kewajiban itu pasti dimintai pertanggungan jawab (termasuk besok diakhirat).”
(Q. Syrat (17) Al Isrok ayat 34).

2.      “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu sekalian supaya menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan bila kamu menetabkan hukum diantara manusia supaya kamu menjalankannya dengan adil...”
(Q. Surat (4) An Nisa’ ayat 58)

3.      “Yang disebut adil ialah memberikan segala hak (memenuhu kewajiban) kepada yang mempunyai hak.”
(Kitab Ihya Ulumuddin juz III, hal 315)

4.      Sesungguhnya Allah itu memberikan segala hak kepada yang mempunyai hak.”
(Hadits Riwayat Ibnu Majah dari Anas Bin Malik dengan sanad yang shoheh)

Jumat, 28 Desember 2012

BIRROSUL

BIRROSUL:
     "Penerapan seperti BILLAH akan tetapi tidak mutlak dan menyeluruh seperti BILLAH, melainkan terbatas dalam soal-soal yang tidak dilarang Allah wa Rasuulihii SAW. Jadi adi dalam segala hal apapun segala gerak-gerik kita baik lahir maupun batin, asal bukan hal yang dilarang oleh Allah wa Rasuulihii SAW kita supaya merasa bahwa semuanya itu mendapat jasa dari Rasuulihii SAW.

     "Dan tidaklah AKU mengutus Engkau (Muhammad) melainkan rahmat bagi seluruh alam". (Q. Surat (21) Al Anbiya' - 107).

       "...........dan sesungguhnya Engkau (Muhammad) benar-benar dapat memberi petunjuk ke arah jalan yang lurus". (Q. Surat (42)

LIRROSUL

LIRROSUL:
     Disamping niat ibadah LILLAH supaya juga disertai LIRROSUL, yaitu niat mengikuti tuntunan Rasullallah SAW. Asal bukan perbuatan yang tidak diridloi Allah dan bukan perbuatan yang merugikan.

     "Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan janganlah kamu sekalian merusak amal-amal kamu sekalian". (Q.Surat (47) Muhammad ayat 33).

       "Barang siapa mengikuti kepada Rasul (LIRROSUL) maka sesungguhnya ia telah taat kepada Allah." (Q .Surat (4) An Nisa'-80)

BILLAH

BILLAH yang artinya adalah Dalam segala kehidupan, gerk-gerik kita atau perbuatan atau tindakan apa saja lahir dan batin dimanapun dan kapanpun, supaya didalam hati senantiasa merasa bahwa yang menciptakan dan menitahkan serta menggerakkan itu semua adalah Allah SWT.

     "Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu sekalian dan apa yang kamu sekalian perbuat". (Q. Surat (37) As-Shoffah ayat 96).
     
      "Dari Abi Dzarrin: "Aku bertanya kepada Rasululloh SAW. Yaa Rasululloh, amal-amal apakah yang lebih utama? Rasululloh SAW: "ALIIMAANU BILLAH"=Sadar Billah (Hadits Muttafaq 'laihi)

LILLAH

LILLAH yang artinya "Segala perbuatan apa saja lahir maupun batin, baik yang berhubungan langsung kepada Allah wa Rosuulihii shollalloohu alaihi wassalam, maupun yang berhubungan di dalam masyarakat, bahkan hubungan dengan sesama mahluk, baik yang wajib, sunnah ataupun mubah asal bukan perbuatan yang tidak diridloi Allah, bukan perbuatan yang merugikan, di dalam melaksanakannya supaya disertai niat beribadah mengabdikan diri kepada Allah SWT dengan iklas tanpa pamrih".
     Dasar/dalil:
  1. "Dan tidaklah AKU menciptakan jin dan manusia melainkan agar supaya mereka beribadah (mengabdikan diri) kepada-Ku". (Q. Surat (51) Adz-Dzariyat ayat 56).
  2. "Dan tidaklah disuruh, melainkan supaya beribadah (mengabdikan diri) kepada Allah dengan iklas/memurnikan kepada-Nya". (Q. Surat (98) Al-Bayyinah ayat 5).

Perjuangan Wahidiyah

Yang dimaksud perjuangan Wahidiyah adalah upaya lahiriyah dan batiniyah dengan Sholawat Wahidiyah dan ajaran Wahidiyah agar supaya seluruh umat manusia masyarakat jami'al alamiin (termasuk dan terutama diri pribadi dan keluarga) kembali mengabdikan diri dan sadar kepada Allah SWT.

AJARAN WAHIDIYAH

Yang dimaksud dengan AJARAN WAHIDIYAH ADALAH "Bimbingan praktis lahiriyah dan batiniyah di dalam mengamalkan dan menerapapkan Tuntunan Rosulallah SAW mencakup bidang Syari'at, haqiqot. meliputi penerapan iman pelaksanaan Islam. Perwujudan ihsan dan pembentukan akhlaqul kariimah".
     Sumber dasar hukum ajaran Wahidiyah adalah Al Qur'an dan Sunnah Rasul SAW.

DAFTAR ISI